/1/
Waktu telah memberiku seribu alasan untuk menyendiri. Hingga kemarin, kau bertandang ke bilik hatiku, membawa seribu satu alasan agar aku berbagi. Pun keadaan telah memberiku seribu alasan untuk berdusta. Hingga hari ini, kau menyiratkan senyum itu lagi, sebagai seribu satu alasan agar aku mengungkapkan sebenarnya rasa.
/2/
Sungguh, sembilu terasa menyerang jemariku ketika kali pertama bertukar sapa denganmu. Kau tahu kenapa? Karena aku melihat Tuhan dalam dirimu; dari caramu menghargai keberadaanku dan kelembutanmu. Ialah membawa kehidupan.
/3/
Aku mencintaimu. Sungguh! benar-benar mencintaimu. Dan jika aku boleh memohon padamu, jua pada pereka cipta alam semesta, aku ingin kau pun mencintaiku. Dan cinta kita tetap hidup: hingga mentari tak lagi diterbitkan, hingga awan pagi tak lagi putih, hingga angin sore tak lagi mendamaikan, hingga rembulan tak lagi bersinar, hingga bintang malam tak lagi berkelap-kelip, dan hingga Tuhan menyatukan kita di kehidupan selanjutnya*
Puisi Karya: Avet Batang Parana
Puisi Karya: Avet Batang Parana



0 komentar:
Posting Komentar
Kritik dan saran Anda, silahkan sampaikan di kolom komentar