Ketika itu—tertatih angin menyelir kelam—menyulam
kesunyian nan menghitam. Kelambu malam bergoyang perlahan bak ayunan pinggul
gadis penari Bali dan lolongan srigala seakan memberikan intermezo menyeramkan
pada tangisan sang ratu kegelapan.
“Cong!
Tolong gue, Cong!”
Pangeran Pocong yang
mendengar rintihan sang kekasih, langsung melompat-lompat liar; kalang kabut,
sampai ia pun tak melihat ada sebatang bambu yang melintang setengah kaki di
depannya.
“Aduh .., kena lagi! kena lagi!” Pangeran Pocong tersandung dan jatuh
terkapar, hingga kepalanya terantuk
dengan batu besar di dekat bambu. “Huh! Ribet banget jadi pocong, skenarionya harus lompat-lompat kayak tupai!” sambung pangeran Pocong
mendongkol.
“Ah, gak ada orang ini. Gue lari aja kali ya ….”
Kemudian pangeran Pocong
beraksi dengan langkah seribu setelah melepaskan tali pocongnya dan melirik ke
kiri-kanan jalan.
Namun Kunti tetap saja
mengerang, walaupun sang pangeran telah tiba dan duduk manis di sampingnya. Terlihat
eksis juga mengelilingi ratu Kunti—si Ucil dan si Ocol, om Genderuwo, tante
Suster Ngesot, dan tujuh Wewe Gombel—mereka kelabakan seperti wartawan yang
tengah menyaksikan pristiwa menghebohkan.
Seketika lembah hantu
menjadi gempar. Semua hantu heran tak berakal. Itu kali pertama terjadi di
sepanjang sejarah kehantuan Kunti. Tawa genit sang ratu yang sensasional, tiba-tiba
berubah tangis histeris yang sempat membuat seisi lembah hantu mual-mual.
“Ada apa, Beb?” tanya pangeran Pocong, sembari
mengelus-elus ramput panjang ratu Kunti.
“Gue takut, Cong …,” jawab ratu Kunti, pedih dan perlahan meredam
suara tangisnya.
Mendadak pangeran Pocong
menepuk jidat. Pun hantu-hantu yang ada di sana saling berbisik dan membuat
suasana semakin riuh.
“Elo kan ratunya hantu, kok
malah takut? Seharusnya elo yang
ditakutkan!” pangeran Pocong bertanya kembali, seraya memandang tajam ke wajah ratu
Kunti.
“Maafin gue, Cong! Sebagai publik figur, gue telah gagal memberikan contoh yang
baik kepada semua fans gue. Andaikata reputasi gue hancur, gak apa-apa daripada tulang gue
dilumat sama anak kecil itu,” jawab ratu Kunti memelas.
“Hah! Anak kecil! Apa gue gak salah dengar?”
Tiba-tiba pangeran Pocong
terkikik geli. Tawanya terdengar datar seperti kakek-kakek ompong.
“Gak lucu! Gue serius, Cong! This is not joke, oke!”
timpal ratu Kunti, mendumel.
“Oke .., oke ..,
semuanya tolong diam!” pinta pangeran Pocong pada hantu-hantu lain yang masih
menertawakan ratu Kunti. Terutama pada ketujuh Wewe Gombel yang tawanya bagaikan
tabuhan panci robek.
“Terus, bagaimana
ceritanya kok nyali elo bisa ciut gara-gara anak kecil?”
tanya pangeran Pocong sedikit menahan tawa.
“Tadi
gue nangkring di bawah pohon beringin
dekat masjid, berharap gue bisa menakuti
semua anak yang pulang mengaji. Memang, sekelompok anak berhasil gue buat ngacir. Tapi berbeda dengan seorang anak laki-laki yang tertinggal.
Bukannya takut, eh malah dengan hikmat ia melafazkan : Allahumma baarik llanaa
fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar. Daripada gue keburu dilahap, akhirnya gue yang lari
tunggang langgang, sampai gue lupa bagaimana cara terbang
…,” jelas ratu Kunti, yang kemudian menarik napas panjang sebelum melanjut, “Cong!
Tolong gue, Cong! Ambilin anak gue yang nyangkut di atas pohon
beringin!”
Karya: Avet Batang Parana



