Home » » Fatamorganakah Cinta Ini?

Fatamorganakah Cinta Ini?



/1/
Gaung sangkakala sang putra mahkota, tetap bertutur tentang durjana. Siluet kelabu masih jua bersanding di atas hening berdenging. Meramu kalbu kian membisu. Tiada lagi keberadaan yang menyombongkan adikara, yang ada hanyalah gemulai ketiadaan di tiap penjuru keranda mayat-mayat fana. Dan, aku ada di sana. Memperagakan kesaktian otak kanan dalam menyulap kata. Perempuan-perempuan lugu itu, kerap menyebutku sebagai penyair berstrata satu. Bodoh! Memang, aku telah membodohi sorot mata lindap mereka dengan binar-binar keemasan yang terpercik dari manik-manik kepiawaianku, bukan hatiku. Ya! karena pada sejatinya, aku tak lebih dari seorang lelaki pendusta; pengumbar angkara berwujud renjana. Namun tidak lagi, semenjak perempuan asing itu memberanikan diri membuka topengku

/2/
Ketika itu, sang dewi malam bertahta sejajar dengan rotasi jam dinding seperempat jalan. Ia menjelma mengenakan gaun abu-abu, berselendang putih salju, ditambah sentuhan coklat samar di dua bola matanya. Gejolak rasa yang tak biasa. Janggal! Karismaku memudar seketika. Hambar. Hingga kedikjayaan nurani, memaksaku untuk mengabadikan sosoknya dalam bingkai bertajuk Bidadari.

/3/
… Dan, ia terus bertandang ke lorong fatamorganaku. Melumat sepi menjadi serbuk-serbuk gelak nadi. Animo membuncah tak lagi mendesah-desah lemah. Karena, cangkir sunyi telah terderak penyelarasan gerak. Namun gelataknya memaksaku untuk diam, tatkala damba mulai berkolaborasi dengan suka. Mungkinkah kami hanya terjebak dalam kabut bahasa? Fatamorganakah cinta ini? Ah, tidak! aku tidak ingin mengelak! Ini benar-benar drama kama. 

/4/
Padamu Tuhan: Izinkanlah aku untuk merengkuh rindu dalam ada dan tiadanya*

Puisi Karya: Avet Batang Parana

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik dan saran Anda, silahkan sampaikan di kolom komentar