“Kuburlah dalam-dalam
cintamu itu! Dan semua harapanmu padaku! Karena sesungguhnya, aku tak pernah
menginginkannya. Lagipula aku tidak percaya dengan kata-kata pria dari dunia
maya.”
Lidahku seketika kelu,
bibirku membisu, gurindam syairku pun jadi tak bertalu. Semilir angin yang
menembus celah manik-manik jendela, membuat dingin merambat cekatan ke
sekeliling kamarku. Sekujur tubuhku menggigil hebat, seirama dengan perih yang
merajam serambi jantungku. Uh, gulita benar-benar menguasai kesadaranku,
setelah membaca kata-kata itu.
“Inikah kematian yang
acapkali dituturkan oleh para penyair?”
♥♥
Malam itu menjadi
malam terakhirku memandang potret wajahnya terpasang di dinding inbox
facebook-ku. Potret wajah yang senantiasa mengingatkanku pada lukisan Oei Hui
Lan—wanita cantik berambut panjang, putri pengusaha gula terkaya di Asia
Tenggara pada abad ke-19.
Mataku terus
terbelalak, mengamati beranda facebook-ku di malam-malam selanjutnya. Ada
puluhan pesan dan ratusan pemberitahuan yang masuk, namun tak ada satupun
darinya. Sepertinya ia menjauhiku.
“Kinan….” Hati kecilku
meraung-raung, memanggil namanya.
Walaupun hubungan kami
hanyalah maya, namun aku yakin bahwasanya aku ada karena dia tercipta. Pun
kendati dia tak mengindahkan tumpuan hatiku, tapi aku tak akan pernah membunuh
cintaku padanya, sebelum mentari merestuiku bercumbu rayu dengan sosok
nyatanya.
♥♥
Hampa. Minggu
terakhirku di bulan November, berlalu tanpa citra bahagia, tanpa suka cita,
tanpa dia.
Hingga aku tiba di
pagi pertama pada bulan Desember 2012. Pagi yang segar. Suhu udara 19 derajat
celcius terasa meraba paru-paruku secara perlahan. Udara khas pegunungan.
Ya, hari itu aku
tengah berada di alun-alun Kota Batu, tempat dimana aku berharap dapat menemukan
keberadaannya, sang Bidadari Nirmala Hatiku.
Namun….
Sudah dua belas pesan
yang aku kirimkan ke inbox facebook-nya, yang tak kunjung dapat balasan juga.
Jujur, aku bingung hendak mencari dia ke mana. Itu kali pertama aku ke Kota
Batu dan tak ada satupun orang yang kukenal di sana.
Sesekali, aku
menggaruk-garuk kulit kepalaku yang sebenarnya tak gatal. Hingga mentari berada
tepat di atas kepalaku, tak kunjung kutemui setitikpun sinyal keberadaannya.
Kebingunganku kian menjadi-jadi.
“Temuilah aku, Nan!
Aku mohon! Jangan biarkan aku berlalu tanpa pernah mengungkapkan cintaku di
hadapanmu! Sungguh, aku tersiksa karenanya….” Pesan terakhir yang aku kirimkan
ke inbox facebook-nya hari itu.
♥♥
Sebisa mungkin aku
berusaha bersikap tenang, sembari mengamati langit yang mulai berubah warna,
memerah tembaga. Perlahan kukeluarkan kotak white choco-love dan selembar
potret wajah yang kubawa—dari dalam ranselku. Baru saja aku menatap tajam
potret wajah itu, sebuah suara lembut mengawai indera pendengaranku.
“Kekasihmu ya, Mas?”
Aku
menggeleng-gelengkan kepala, tanpa mengerling sedetikpun ke arah si penyapa.
“Tiga bulan terakhir,
dia berusaha membuatku jatuh cinta. Namun anehnya, dia tak pernah berniat untuk
menerimaku di saat aku benar-benar terjatuh…,” balasku pedih, kemudian
beranjak.
“Rana! Tunggu!”
Tubuhku tersentak,
langkahku terhenti secara mendadak. Rasanya aku akan mati berdiri kalau tidak
segera menyadari jantungku berdetak dengan kencang.
Suara lembut itu
ternyata….
“Ki… Ki… Nan?”
“Kamu gila, Rana!
Kenapa kamu lakukan semua ini untukku?”
“Beginilah cinta, Nan.
Mencari dan selalu ingin menemukan jalannya….”
Kinan mengibaskan
rambut hitam panjangnya untuk kemudian, seolah mengusir resah yang membidas
wajahnya.
“Tak usah takut, Nan!
Aku ke sini bukan untuk memaksamu menerima cintaku. Aku mengerti, cinta
bukanlah perasaan yang bisa dipaksakan. Tapi setidaknya kau bisa menerima kotak
white choco-love ini, sebagai tanda kalau aku tak pernah bermaksud
membohongimu,” sambungku seraya membalikkan badan dan mulai melangkah lagi,
setelah memberikan kotak white choco-love di genggaman tangan kananku.
“Rana…,” lirih Kinan
mengejarku. Dan kembali kami saling menatap sehadapan. Lalu, Kinan
mengembalikan kotak white choco-love itu padaku.
“Kenapa, Nan? Kau
tidak mau menerimanya?”
“Bukan! Bukan begitu,
Rana.” Bola mata Kinan berbinar dan bibirnya menyiratkan senyum yang memukau.
“Jadi?”
“Aku ingin memakan
white choco-love ini bersamamu.”
Sumbawa, 12 Februari 2012
♥♥
Persembahan spesial untuk Chris: Terima kasih
atas cinta yang tercipta di antara kita. Sungguh, karenanya hari-hariku terasa
begitu berharga. Cerpen Karya: Avet Batang Parana



0 komentar:
Posting Komentar
Kritik dan saran Anda, silahkan sampaikan di kolom komentar